Pati – Rembang Produsen garam Terbesar Kini Impor
Pati – Kabupaten Pati dan Rembang, Jawa Tengah, sejak dulu dikenal daerah produsen garam “krosok” (garam tradisional) terbesar di Jawa Tengah bahkan secara nasional. Namun ironis, kini justru menjadi pengimpor garam. Itu karena keadaan alam yang tak menentu/ekstrim. Membuat produksi garam dari dua kabupaten itu merosot drastis.
Cuaca ekstrim akhir-akhir ini ditandai musim penghujan panjang dengan curah tinggi. Hingga melumpuhkan industri garam rakyat setempat (Rembang, Pati, Jepara, Demak). Mengingat proses kristalisasi garam (dari air laut), sepenuhnya bergantung pada panas matahari (dimusim kemarau).
Jika berlangsung musim kemarau panjang, produksi garam rakyat didaerah-daerah Jateng tersebut meningkat. Sebaliknya bila musim penghujan berlangsung berkepanjangan, seperti tahun lalu dan mungkin tahun 2011 ini, otomatis produksi akan merosot tajam. Produksi garam rakyat tahun 2009, sebesar 145.731 ton. Tetapi pada tahun 2010 hanya 10 ton saja, akibat musim penghujan berlangsung panjang tadi.
Tambak Ikan
Pemilik/petani garam rakyat merasa rugi atas kondisi iklim yang tidak menentu saat ini. Mereka belum berani menggarap tambak garam miliknya, bila air dari langit mamsih turun. Sebab proses kristalisasi garam, sangat peka terhadap gangguan air tawar. Jika petani nekat menggarap lahan, kerugian besar bisa diderita. Lahan-lahan yang ada, sementara ini dimanfaatkan untuk budi daya perikanan air payau.
Lahan tambak garam Jateng saat ini sekitar 2800 Ha/3000 Ha. Di Kab.Pati tercatat tambak garam sekitar 1000 Ha, sentra-sentra produksi garam rakyat terdapat di Kecamatan Tarangkil, Wedarijaksa, Juwana dan Batangan Kini banyak lahan garam beralih fungsi jadi perumahan, seiring kian bertambahnya penduduk. Dulu garam Pati menguasai pangsa skala nasional. Sekarang hanya mampu mensupply 50% kebutuhan garam di Jateng.
Impor Dari Luar
Ironisnya sekarang daerah penghasil garam terbesar di Jateng (Pati dan Rembang), justru mengimpor garam dari India, Yordania dan Australia, guna mencukupi kebutuhan garam didaerah mereka; Mengingat dua daerah itu terdapat/berkembang berbagai industri rakyat, unsurnya berbahan baku garam. (Home) Industri terbesar diserap sektor perikanan (pengasinan/pengawetan ikan).
Setiap bulan garam yang diimpor untuk mencukupi kebutuhan daerah Pati dan Rembang, sekitar 30 ton dengan harga antara Rp 900/Kg sampai Rp 1.050/Kg. Harga impor itu memang relatif lebih rendah dari pada harga garam lokal, Rp 1.200/Kg. Sebab dari segi kualitas, garam krosok lokal lebih bagus dari pada garam impor.
Ihwan Sudrajat, Kepala Diperindagkop Jateng menambahkan, produksi garam di tingkat provinsi saat ini 540.000 ton/tahun. Sedangkan kebutuhan yang diperlukan sebesar, 975.000 ton/tahun. Sehingga terdapat defisit, 435.000 ton/tahun. Angka defisit dari tahun ke tahun cenderung naik, karena berbagai faktor seperti penyusutan lahan dan kendala cuaca ekstrim.
Short URL: http://www.dislautkanpati.com/?p=315
